OPTIMALISASI PERAN POSYANDU DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING
Oleh: Khoirus Sahro
www.siapbahagia.com (Siap Bahagia)
Pada tahun 2022,
Jawa Timur tercatatat sebagai salah satu dari 12 provinsi prioritas yang
memiliki prevelansi stunting tertinggi di Indonesia. Di Jawa Timur angka
stunting masih menduduki 23,5% yang terbilang masih tinggi. Jika dibandingkan
dengan angka stunting nasional yang mencapai 27,6%, provinsi jawa timur
memiliki angka stunting lebih rendah. Dengan demikian, Hasto Wardoyo selaku
kepala BKKBN mengatakan jika Provinsi Jawa Timur dijadikan sebagai kontributor
utama dalam upaya penurunan stunting secara nasional. Dalam hal ini
salah satu usaha yang dilakukan oleh Provinsi Jawa Timur yakni dengan
pengoptimalisasian peran posyandu.
Stunting
merupakan suatu gangguan yang terjadi pada pertumbuhan anak, gangguan tersebut
adalah tinggi badan anak pendek (kerdil) atau lebih rendah yang ditinjau dari
standar usianya atau standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference
Study) 2006. Stunting dapat dikatakan sebagai kondisi yang serius
saat anak tidak mendapatkan asupan makanan yang bergizi dalam waktu yang tepat
dan dalam jangka waktu yang lama. (Tim Indonesiabaik.id 2019). Biasanya balita yang terkena stunting tidak mendapatkan asupan
makanan yang bergizi sejak dalam kandungan dan masa awal setelah bayi
dilahirkan. Namun, anak yang terkena stunting akan terlihat saat balita berusia
2 tahun.
Stunting
disebabkan oleh faktor multi dimensi, stunting tidak hanya disebabkan karena
faktor gizi buruk yang dialami oleh balita maupun ibu hamil. Selain faktor
tersebut ada beberapa faktor yang meneyebabkan stunting, adalah: 1. Praktek pola
asuh yang tidak baik, 2. Minimnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC, Post
natal dan pembelajaran dini yang berkualitas, 3. Terbatasnya akses air bersih
dan sanitasi (Abarca 2021), 4. Status ekonomi, 5. Faktor genetic, 6. Jarak kelahiran, 7. Anemia
pada Ibu, 8.Defisiensi zat gizi (Candra MKes(Epid) 2020)
Adapun ciri-ciri stunting, yakni: tumbuh kembang anak yang
melambat, pada usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam dan tidak banyak
melakukan eye kontak, wajah si anak terlihat lebih muda dari usianya, dan proses
pubertas yang melambat.
Terdapat dampak jangka
panjang dan jangka pendek pada stunting. Dampak jangka panjangnya yaitu
prestasi anak dan kemampuan kognitif anak menurun, anak mudah sakit karena
kekebalan tubuhnya menurun, memiliki resiko yang tinggi, munculnya berbagai
penyakit, yakni: penyakit diabetes, stroke, penyakit jantung dan pembuluh
darah, obesitas, dan juga disabilitas atau keterbatasan pada usia tua. Nah,
untuk dampak jangka pendeknya antara lain kecerdasan anak berkurang, metabolism
dalam tubuh anak mengalami gangguan, perkembangan otaknya terganggu, dan juga
pertumbuhan fisik pada anak juga mengalami gangguan.(Tim Indonesiabaik.id 2019)
Lalu, apakah stunting dapat dicegah? Dan bagaimana upaya untuk
pencegahan stunting? Tentu saja, terdapat banyak upaya untuk mencegah stunting,
stunting dapat dicegah dengan cara: 1 Melakukan
perbaikan terhadap pola makan dengan
cara pemenuhan asupan gizi seimbang ibu mulai
dari masa pra konsepsi (pembuahan) hingga masa 1000 HPK (Hari Pertama
Kehidupan) yakni ketika bayi berusia 2 tahun 2 Perbaikan
pola asuh 3 Perbaikan akses air bersih dan sanitasi 4 Mempersiapkan pernikahan
yang baik. 5 Melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). 6 Memberikan ASI eksklusif
pada anak. 7 Memberikan MP-ASI (makanan pendamping ASI) pada bayi mulai dari
usia 6 bulan. 8 Mendorong peningkatan aktivitas anak di luar ruangan . 9 Membawa
bayi ke Posyandu setiap bulan untuk memantau tumbuh kembangnya. (Tim Indonesiabaik.id 2019)
Salah satu upaya guna mencegah stunting adalah memantau tumbuh
kembang anak dengan membawanya ke Posyandu setiap bulannya. Lantas, apa saja
peran Posyandu yang dilakukan untuk mencegah stunting? Posyandu merupakan
kepanjangan dari “Pos Pelayanan Terpadu”. Posyandu merupakan salah satu wadah yang
digunakan sebagai pusat kegiatan masyarakat, yang mana masyarakat dapat
memperoleh pelayanan kesehatan dan juga pelayanan KB (Keluarga Berencana).
Posyandu juga sebagai salah satu bentuk upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat
yang diselenggarakan dan dikelolala dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat.
Tujuan dari Posyandu yakni untuk mempermudah masyarakat untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan dasar guna mempercepat penurunan angkat kematian ibu dan
bayi dan juga untuk meningkatkan sekaligung memelihra kesehatan bayi, balita
dan pasangan usia subur. (Khoiri 2008)
Dalam Posyandu terdapat kegiatan utama dan kegiatan tambahan
(pengembagan), yang mana kegiatan tersebut dapat mencegah stunting, nahh kegiatannya
antara lain:
A.
Kegiatan Utama
1.
Kesehatan Ibu
dan anak meliputi: Ibu hamil, Ibu nifas dan menyusui, bayi dan anak balita
Pada Ibu hamil pelayanan yang didapatkan ketika posyandu yakni
penimbangan BB (berat badan), pemberian tablet besi (Fe), pengukuran tekanan
darah, pemeriksaan kehamilan, pemberian imunisasi Tetanus Toxoid dan
jika dalam pemeriksaan ditemukan kelainan maka Ibu hamil segera dirujuk ke
Puskesmas terdekat. Tidak hanya itu, bila memungkinkan biasanya kelompok Ibu
hamil diberikan penyuluhan mengenai bahaya kehamilan, persiapan persalinan,
menyusui, KB (Keluarga Berencana), serta perawatan payudara dan bayi ketika
baru lahir dan juga dilakukan senam Ibu hamil.
Pelayanan yang didapatkan oleh Ibu nifas dan menyusui dalam
Posyandu antara lain, pemberian vitamin A, pemberian tablet Fe, penyuluhan
kesehatan, senam Ibu nifas, dan juga jika menungkinkan maka Ibu nifas
mendapatkan pelayanan pemeriksaan payudara, pemeriksaan lochea dan
tinggi fundus uteri.
Bayi dan anak balita pelayan yang didapatkan ketika Posyandu
meliputi, penimbangan berat badan, penentuan status gizi, penyuluhan mengenai
kesehatan bayi dan juga balita, imunisasi, pemberian vitamin A, pengukuran
panjang dan tinggi badan, deteksi dini dan tumbuh kembang, jika dalam
pemeriksaan kesehatan ditemukan kelainan maka segera dirujuk ke Puskesmas
terdekat. (Sari 2018)
Gambar 1 Penimbangan Berat Badan
Gambar 2 Pengukuran Tinggi Badan
2.
Keluarga
Berencana
Pelayanan Keluarga Berencana (KB) di Posyandu adalah dengan
memberikan pil KB dan juga kondom. Jika terdapat petugas kesehatan dari
Puskesmas terdekat maka dapat dilayani suntik KB dan Konseling Keluarga
Berencana .
3.
Imunisasi
Gambar 3 Pemberian Imunisasi
Imunisai di Posyandu dilayani oleh petugas puskemas yang bertugas,
pelayanan imunisasi ini sesuai dengan program bayi, anak balita dan Ibu hamil.
Terdapat beberapa jenis imunisasi, antara lain: DPT, BCG, polio, campak, dan
tetanus toxoid.
4.
Gizi
Pelayan gizi pada Posyandu tidak jauh berbeda dengan pelayanan yang
dilakukan pada Ibu hamil, bayi dan anak balita dan juga Ibu nifas. Bentuk
Pelayanannya yakni: penimbangan berat badan, pemberian PMT, Pemberian tablet
Fe, pemberian vitamin A dan juga penyuluhan gizi.
Gambar 4. Pemberian PMT
5.
Penyuluhan PHBS
(Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) serta penaganan diare dengan cara penyuluhan tentang
diare dan juga pemberian oralit atau dengan laruutan garam.
B.
Kegiatan
Pengembangan
Kegiatan
Pengembangan dalam Posyandu dilaksanakan pada waktu tertentu dan jika tersedia
sumberdaya yang mendukung, kegiatan ini dapat dilakukan dengan pelaksanaan
kegiatan baru seperti: pemberantasan penyakit menular, perbaikan kesehatan
lingkungan dan juga berbagai macam program pembangunan masyarakat desa. (Khoiri 2008)
Apabila menilik
dari kegiatan Posyandu diatas dapat disimpulkan jika kegiatan Posyandu
merupakan kegiatan yang dapat mengoptimalkan pencegahan stunting dengan
berbagai kegiatannya yang sangat bermanfaat bagi masyarakat, bayi dan juga anak
balita. Dengan hadir dalam kegiatan Posyandu masyarakat khususnya Ibu hamil,
bayi, anak balita dan Ibu nifas dapat melakukan pemeriksaan kesehatan meliputi
penimbangan berat badan, pengukuran tingi badan, pemberian vitamin dan PMT dan
masih banyak lagi. Dengan adanya peran posyandu yakni memberikan penyuluhan dan
konseling mengenai kesehatan gizi diharapkan masyarakat dapat meningkatkan
kesadaran dan pengetahuan mengenai tumbuh kembang bayi dan pencegahan stunting
sehingga tercipta perubahan perilaku yang lebih baik. Ayo dating ke Posyandu
setiap satu bulan sekali! Cegah stunting itu penting! Ibu sehat, anak cerdas,
keluarga sejahtera!.
Daftar Pustaka
Abarca, Roberto Maldonado. 2021. “Tanda Stunting.” Nuevos
Sistemas de Comunicación e Información, 2013–15.
Candra MKes(Epid), Dr. Aryu. 2020. Pencegahan Dan
Penanggulangan Stunting. Epidemiologi Stunting.
https://r.search.yahoo.com/_ylt=Awrxw_53QaJhPmUA3w_LQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzQEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1638052344/RO=10/RU=http%3A%2F%2Feprints.undip.ac.id%2F80670%2F1%2FBuku_EPIDEMIOLOGI_STUNTING_KOMPLIT.pdf/RK=2/RS=BFSY8aq0Lx1bha7MtII8PgwQwYU-.
Khoiri, Ahmad. 2008. “Konsep Posyandu.” Modul Peatihan Sistem
Informasi Posyandu 7 (2): 1–26.
https://bloktuban.com/2022/03/24/stunting-di-jatim-23-5-persen-bkkbn-jatim-ajak-kemenag- tuban-turunkan-angkanya/
https://dispmd.bulelengkab.go.id/informasi/detail/bank_data/pengertian-posyandu-kegiatandefinisi-tujuan-fungsi-manfaat-dan-pelaksanaan-posyandu-33
https://infoanggaran.com/detail/jawa-timur-jadi-kontributor-utama-penurunan-angka-stunting-nasional
https://surabaya.kompas.com/read/2022/03/02/172640078/prevalensi-stunting-di-jatim-tinggi-ini-upaya-bkkbn?page=all
Sari, dkk. 2018. “Hubungan
Pengetahuan Dan Sikap Kader Posyandu Tentang Pertumbuhan Dan Perkembangan
Balita.” Hilos Tensados 1: 1–476. http://repository.poltekkes-tjk.ac.id/758/5/BAB
II.pdf.
Tim Indonesiabaik.id. 2019. Bersama
Perangi Stunting. Direktorat Jenderal Informasi Dan Komunikasi Publik.
http://indonesiabaik.id/public/uploads/post/3444/Booklet-Stunting-09092019.pdf.